Keterbiasaan dan Kecocokan

Keterbiasaan.

Cinta datang karena terbiasa. Witing tresna jalaran saka kulina.

Dari anak kecil yang baru kenal cinta monyet ampe kakek-nenek yang udah makan asam garam kehidupan, pasti apal banget sama doktrin diatas. Umumnya sih, kalimat ini digunakan untuk melegalkan perjodohan karena hal ini dianggap terbukti berhasil dalam membuahkan cinta, bahkan ampe punya anak-cucu super banyak. Kenyamanan yang dibangun selama interaksi, ditambah intensitas yang berlebih, mungkin dua faktor itu yang menumbuhkan benih cinta.

Tapi ada yang berpendapat bahwa cinta seperti itu adalah perangkap. Pada dua orang yang saling memiliki, dua orang yang saling mencintai, keterbiasaan tidak hanya sebagai penumbuh benih percintaan tetapi juga perpisahan. Terbiasa saling memiliki hingga ia tidak lagi spesial. Terbiasa dengan kehadirannya menyapa hari-hari kita yang membosankan. Terbiasa dengan semua rutinitas percintaan yang selalu dilakukan bersamanya. Sebuah keterbiasaan yang akhirnya menimbulkan kebosanan dan pemikiran untuk meninggalkan orang yang kita cintai.

Kecocokan.

Keputusan untuk meninggalkan sang kekasih bisa saja datang karena hubungan yang memburuk akibat keterbiasaan. Ketidakcocokan yang dulu ditolerir karena cinta, dianggap sebagai sebuah keterbiasaan yang menyebalkan. Namun, hal tersebut tidak seharusnya menjadi justifikasi untuk meninggalkan si pacar. Sebagai pacar yang baik, seharusnya ketika terjadi permasalahan maka kita akan duduk dan menyelesaikan ketidakcocokan itu. Tidak minggat atau bahkan selingkuh. Ketidakcocokan itu pasti ada. Manusia tidak diciptakan Tuhan untuk sama. Manusia diberikan tantangan oleh Tuhan berupa perbedaan dan diberikan kecerdasan dan kedewasaan untuk menyelesaikannya. Perasaan sayang yang kita miliki seharusnya dapat menerima keterbatasan orang yang kita sayangi. Tapi kemudian pertanyaan yang timbul adalah sampai di tahap mana seorang kekasih akhrinya berkata “CUKUP!”?

Keterbiasaan membuat kita bertahan, mentolerir segala ketidakcocokan. Namun, kecocokan juga menjadi alasan untuk meninggalkan orang yang kita sayangi karena keterbiasaan dia yang menyebalkan. Ketika kita marah, apa yang kita ingat? Kita hanya mengingat hal-hal buruk yang pernah dilakukan orang tersebut tanpa pernah mengingat kebaikan yang pernah dilakukan. Mana yang akan kita pilih, keterbiasaan atau kecocokan?

Silakan berkomentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s