Gantung

“Akhirnya gue putus, setelah masa ketidakjelasan selama berbulan-bulan.” kata teman saya ketika kami sedang berbuka puasa.

Saya kaget dan menatapnya heran “Lu beneran putus?”

Teman saya menghela nafas “Belum putus sih. Tadi pagi dia nelpon gue, ngajakin buka puasa bareng plus mau ngomongin kelanjutan hubungan ini ke depannya.”

“Lah,  tau dari mana bakalan putus?”

“Dia bilang ‘Kita mulai ini baik-baik, kalaupun besok ga bisa menyamakan persepsi dan harus putus, ya harus selesai baik-baik juga’. Tapi gue yakin pasti putus.” teman saya tertawa kecil “Enam bulan tanpa komunikasi, ya dipikir aja deh.”

Saya terdiam sejenak. “Hmm, saran gue, apapun yang terjadi dandan secantik mungkin yang bisa membuat dia bergumam ‘dan dia belum pernah secantik hari ini’. Siapa tau ga jadi putus karena ngeliat lu cantik banget.”

Teman saya terkekeh “Gila lu!”

Setelah obrolan singkat tersebut, kami kembali melanjutkan makan. Tapi pikiran saya tidak berada disana, she does remind me of myself.

Saya pernah berada dalam fase seperti teman saya. Hubungan yang tidak jelas selama beberapa lama, lalu kemudian putus.

Lalu saya menarik mundur ingatan saya, ke masa dimana hubungan saya dan mantan pasangan saya baik-baik saja. Masa-masa penuh keindahan, dua orang yang saling mencintai dan berharap akan selalu bersama selamanya. Tapi kemana ya perasaan-perasaan itu ketika hubungan bermasalah? Kok adanya rasa benci, sebel, kesel, dan marah? Lah, masa cinta kasih dikalahkan perasaan negatif. Kalau dipikir-pikir, kok bisa hubungan yang awalnya banjir kata-kata “I love you” berubah begitu saja tanpa kejelasan dan akhirnya putus dengan tragis.

Setelah dirunut-runut lagi, masalahnya sederhana, karena saya ataupun pasangan saya merasa salah satu diantara kami telah berubah. Muncul friksi-friksi kecil yang mempertanyakan “Kok kamu berubah sih?” atau diterjemahkan secara bebas “Kok lu ga sesuai keinginan gue?”. Akibatnya, saling menyakiti satu sama lain. Ketika pasangan kita berperilaku tidak sesuai yang diharapkan, kita membalasnya dengan berperilaku yang tidak sesuai dengan harapan mereka. Kaya take and give gitu deh, atau bahasa orang Betawinya “lu jual, gue beli”. Kecenderungan egosentris, memusatkan segala hal pada diri sendiri. Pokonya diri sendiri nyaman, aman, tentram dan semua hal lain yang menyenangkan diri sendiri. Ketidakcocokan yang dulu ditolerir karena cinta, dianggap sebagai sesuatu yang menyebalkan.

Tapi sebenarnya keadaan ini semakin diperparah karena ga ada yang ngomong dengan jelas tentang perubahan yang dirasakan. Lagi-lagi yang terlintas di kepala adalah “Kita tuh udah lama jalan bareng, masa kamu masih ga ngerti jalan pikiranku sih?”. Lah, kalau ga ngomong dengan jelas, ya mana tau masalahnya dan apa yang harus diperbaiki.

Akhirnya mulai deh fase-fase hubungan yang ga jelas alias ngegantung. Saling mendiamkan dan tidak ada komunikasi. Di satu sisi, ingin melepaskan pasangan kita karena mereka tidak lagi melihat dunia dengan kacamata yang sama. Di sisi lain, merasa sayang untuk melepaskan hubungan yang telah lama dibangun dan malas untuk memulai kehidupan baru atau lebih tepatnya malas keluar dari zona nyaman. Seperti memakan buah simalakama.

Hal yang paling menyedihkan dan menyakitkan dari fase gantung adalah ketika hubungan tersebut selesai tanpa kata-kata atau salam perpisahan. Salah satu menyerah dan memilih mencari kehidupan baru. Kalau kata teman saya sih, “Siapa yang tahan didiemin ga jelas. Status doang masih pacaran, kenyataannya udah kaya musuh bebuyutan. Diem-dieman ga jelas dan ketika dihubungi malah marah-marah. Toh, cuma pacaran, kenapa harus ribet? Apa susahnya ngomong putus? Kan ga harus ke pengadilan.”

Padahal ga semua fase gantung harus berakhir dengan buruk dan tanpa salam perpisahan. Bagaimana jika ternyata sang kekasih hanya membutuhkan waktu untuk sendiri dan memikirkan ulang tentang hubungan yang sedang dijalani? Seperti yang dialami oleh teman saya. Yah, masa-masa sendiri seperti itu enaknya dipakai untuk saling instropeksi setiap kesalahan, daripada saling menyalahkan. Ga ada salahnya kan berpikir positif?

Lamunan saya pun akhirnya buyar karena teman saya menggerutu pelan “Oh, crap! Lagunya ngepas banget sih.

Sebuah lagu dari mengalun pelan di tempat makan kami.

Sampai kapan kau gantung
Cerita cintaku memberi harapan
Hingga mungkin ku tak sanggup lagi
Dan meninggalkan dirimu

Detik-detik waktu pun terbuang
Teganya kau menggantung cintaku
Bicaralah biar semua pasti

Melly Goeslaw – Gantung

2 comments

Silakan berkomentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s