Seta

Ketika sedang membersihkan kamar, secara tidak sengaja saya menemukan handphone saya yang sudah rusak. Iseng-iseng, saya mengisi ulang baterainya. Setelah beberapa jam, saya mencoba untuk menghidupkannya. Lalu apa yang terjadi saudara-saudara? Eng ing eng~ handphone saya hidup kembali!

penampakan handphone yang mati suri

penampakan handphone yang mati suri

Saya agak sedikit kaget dan histeris melihat handphone saya hidup dan berfungsi seperti biasanya.

Oia, saya lupa memberitahukan, handphone saya ini diberi nama “Seta”. Saya memberinya nama tersebut karena casingnya berwarna putih (dalam bahasa Jawa, seta berarti putih).

Saya selalu menyimpan pesan singkat yang saya anggap penting. Iseng-iseng, saya mencoba membacanya kembali. Ada beberapa pesan singkat yang membuat saya terharu karena berisikan semangat dari beberapa orang teman yang tidak pernah bosan menyuruh saya untuk bangkit dari keterpurukan. Ada juga beberapa pesan singkat yang isinya sangat romantis, hal-hal sederhana yang membuat saya tersenyum. Menyenangkan membaca kembali pesan-pesan singkat tersebut, seakan-akan saya berada di masa lalu dan mengalami lagi kejadian tersebut. Ya, seperti berpindah ruang dan waktu dengan perasaan yang sama.

Selama seminggu, saya telah berulang kali membaca pesan yang sama. Terbayang akan masa lalu dan berharap hidup dalam kenangan. Pagi ini, setelah sahur, saya ingin membaca lagi beberapa pesan, tapi ternyata Seta mati total dan tidak bisa dihidupkan. Saya mencoba berbagai macam cara agar Seta dapat hidup kembali, ternyata hasilnya nihil.

“Udah sih, relain aja. Udah rusak juga kan?” kata adik saya yang gerah melihat saya membongkar-bongkar laci untuk mencari baterai handphone cadangan.

“Kan sayang smsnya, nanti ga bisa baca-baca lagi deh”

Adik saya mengeryitkan kening “Ya elah, emang kenapa kalau bisa baca lagi smsnya? Ngaruh apa sama hidup lu yang sekarang? You wish there was a magic word “un-do”. Such a foolish wish. At this late age still figuring out what you want to be and what you want to do, such a pathetic! Too much thinking will kill you after all, young lady. That’s for sure!”

Saya kaget mendengar ucapannya. Wow, ternyata adik kecil saya sudah dewasa.

“Melongo aja lu! Solat sono! Oia, kenangan itu ga perlu bukti fisik, yang penting tersimpan jelas dalam kepala kita.” kata adik saya sambil lalu.

Silakan berkomentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s