Field Trip Ke Penjara Anak #3

Ini bagian terakhir dari cerita Field Trip Ke Penjara Anak #1 dan Field Trip Ke Penjara Anak #2. Maapkeun kalau ada kekurangan-kekurangan, ga jelas, ga ngerti, silahkan tanyakan saja. Nanti akan dijelaskan lebih lanjut dalam postingan berikutnya~

Keadaan Lapas Klas II B Anak Wanita Tangerang sedikit berbeda dengan Lapas Anak Pria Tangerang. Perbedaan yang paling mencolok adalah jumlah tahanan. Di Lapas Klas II B Anak Wanita Tangerang, hanya terdapat sembilan andikpas dan beberapa diantaranya masih berstatus sebagai anak tahanan. Dengan jumlah yang sedikit tersebut, Lapas Klas II B Anak Wanita Tangerang sering mendapatkan perlakuan yang berbeda dan merugikan. Misalnya, di Lapas Klas II B Anak Wanita Tangerang belum terdapat komputer yang dilengkapi dengan fasilitas internet, berbeda dengan kondisi di Lapas Anak Pria Tangerang. Andikpas disini tidak dapat menikmati kemewahan tersebut karena pihak swasta lebih suka bekerjasama dengan Lapas Anak Pria Tangerang yang memiliki jauh lebih banyak andikpas.

Tindak pidana yang menyebabkan masuknya andikpas ke Lapas ini kebanyakan adalah kasus pencurian. Kasus lain adalah narkotika. Andikpas yang ditahan disini tidak ada yang berumur di bawah 12 tahun.

Mengenai kesehatan, diketahui bahwa dalam Lapas ini terdapat klinik. Kesehatan menjadi salah satu fokus perhatian disini. Oleh karena itu, di Lapas ini terdapat poliklinik serta pelayanan dokter umum, dokter gigi, dan paramedis. Menurut Kepala Lapas Klas II B Anak Wanita Tangerang, pelayanan kesehatan pada andikpas pun lebih baik daripada pelayanan pada tahanan wanita dewasa. Selain itu, di Lapas ini, setiap warga binaan tidak diperbolehkan untuk merokok. Jika ada warga binaan yang merokok secara aktif, maka akan diberikan treatment khusus guna mengurangi ketergantungan terhadap rokok. Kepala Lapas menjelaskan salah satu triknya, yaitu bila si perokok yang bersangkutan meminta rokok dengan segala cara, ia akan diberikan permen sebagai ganti rokok. Dengan treatment khusus yang diberikan ini, secara perlahan si andikpas tidak akan tergantung lagi pada rokok dan kualitas kesehatannya pun pasti akan meningkat. Treatment khusus juga diberikan dalam hal ditemukan andikpas yang menjadi pecandu narkoba.

Dalam kasus HIV/AIDS, selama kurun waktu 2009-2011, Lapas hanya menemukan kasus ini terjadi pada tahanan wanita dewasa. Biasanya tahanan yang menderita HIV/AIDS merupakan tahanan pindahan dari Lembaga Pemasyarakatan Cipinang dan baru diketahui ketika penyakitnya telah mencapai titik kronis. Lambannya pendeteksian HIV/AIDS ini terjadi mengingat tidak adanya kewajiban untuk melakukan pemeriksaan darah karena pemeriksaan darah secara paksa dianggap sebagai salah satu bentuk pelanggaran HAM. Untuk mengantisipasi hal ini, Lapas Klas II B Anak Wanita Tangerang selalu menyiapkan tim khusus yang menangani kasus HIV/AIDS.

Tim khusus lainnya juga disiapkan oleh Lapas untuk menangani kasus tuberculosis atau paru-paru basah. Tim khusus yang menangani tuberculosis ini memiliki jejak keberhasilan yang cukup baik karena telah berhasil menetralkan salah satu warga binaan yang terkena penyakit ini dan membuatnya dapat kembali berinteraksi dan bersosialisasi dengan warga binaan yang lain. Pemenuhan kebutuhan gizi disini pun cukup baik dimana tiap andikpas dan warga binaan lain mendapat jatah makan daging dan minum susu sekali dalam seminggu.

Kecenderungan lesbian di Lapas pasti ada, namun Kepala Lapas Anak Wanita Tangerang menyatakan bahwa tidak diketahui secara pasti mengenai jumlah lesbian dalam Lapas ini. Untuk mengantisipasi hal ini, petugas penjara pun memberlakukan pengawasan yang cukup ketat dan memberlakukan beragam kebijakan yang berupaya mengurangi potensi lesbian.

Dalam Lapas ini, setiap andikpas diberikan fasilitas untuk melakukan konsultasi psikologi secara individual atau kelompok. Konsultasi ini dapat dilakukan dengan pihak yang telah disediakan Lapas atau pihak luar yang telah bekerja sama dengan Lapas. Kepala Lapas Klas II B Anak Wanita Tangerang melihat bahwa konsultasi psikologi yang dilakukan oleh pihak luar lebih efektif karena keterbukaan terpidana anak lebih besar, sehingga jika terdapat masalah dapat langsung ditangani dengan baik. Andikpas yang kami wawancarai mengaku bahwa ia kerap curhat pada salah satu petugas Lapas, namun sayangnya saat ini petugas yang bersangkutan tidak ada lagi di Lapas ini.

Ruang tahanan di Lapas ini dibagi per blok dan terpisah mengingat Lapas ini juga menampung tahanan wanita dewasa. Untuk ruang tahanan atau sel di Lapas ini cukup memadai. Lantai tiap ruang tahanan telah dilapisi dengan keramik dan terdapat kamar mandi di dalam. Tiap ruang tahanan dihuni empat orang dengan kasur digelar di lantai. Mengingat bahwa di Lapas ini menampung anak-anak dan dewasa, maka terdapat pembedaan warna seragam yang wajib dipakai tiap warga binaan untuk menghindari percampuran antara warga binaan yang masih anak-anak dan dewasa serta menghindari warga binaan dewasa menghampiri blok tahanan bagi anak-anak, dan sebaliknya. Pembedaan warna seragam ini tentu akan memudahkan pemantauan dari jauh oleh petugas. Bagi andikpas, warna seragamnya adalah kuning dan bagi tahanan wanita dewasa adalah merah (sesuai dengan nama blok tahanannya, mawar). Sementara bagi anak tahanan yang masih belum diputus perkaranya, diberikan seragam berwarna putih.

Walaupun berada dalam penjara, andikpas tetap mendapatkan haknya untuk mendapatkan pendidikan, baik formal maupun informal. Pendidikan formal yang mereka dapatkan adalah bersekolah sesuai dengan jenjang pendidikannya sebelum masuk ke Lapas Anak. Sayangnya Lapas ini baru dapat menyelenggarakan kegiatan untuk terpidana anak yang masih berada di tingkat SD dan SMP. Pendidikan di tingkat SMA tidak dapat diselenggarakan karena tidak adanya guru. Biasanya untuk memenuhi kebutuhan pendidikan tersebut, andikpas akan dikirimkan ke Lapas Anak Pria Tangerang untuk belajar bersama, namun karena keterbatasan petugas dan hanya sedikitnya anak yang berada di tingkat SMA, maka saat ini diberlakukan kebijakan untuk meniadakan sementara kegiatan belajar mengajar tingkat SMA ini.

Pendidikan informal pun diberikan sekaligus untuk mengisi waktu luang. Andikpas disini diwajibkan untuk mengikuti beragam pelatihan yang telah disiapkan. Dengan diberikan pelatihan tersebut, diharapkan setelah bebas, mereka dapat bekerja secara mandiri dan dapat membaur dengan masyarakat. Pelatihan yang diberikan sangat bervariasi dan bertujuan untuk meningkatkan produktivitas para warga binaan dan memberikan bekal soft skill untuk bekal warga binaan setelah keluar dari Lapas. Pelatihan tersebut dapat terselenggara bekerja sama dengan pihak luar. Pelatihan-pelatihan yang diberikan disini ternyata memiliki jejak keberhasilan yang cukup menarik sebagai berikut.

  1. Tim Asmaul Husna Lapas ini sering mendapat panggilan untuk pentas di luar penjara. Panggilan untuk pentas tersebut, tidak hanya untuk kegiatan yang bersifat local, tapi juga nasional. Tim ini juga pernah menjuarai perlombaan.
  2. Dalam bidang menjahit, mote, dan bordir, setiap barang yang dibuat oleh andikpas diperjualbelikan dan mendapatkan pesanan dari pihak luar. Keuntungan yang diperoleh akan dibagi secara merata antara Pemerintah, untuk pembangunan Lapas, dan tabungan untuk andikpas yang membuatnya.
  3. Kegiatan keterampilan lainnya di Lapas ini yaitu budidaya anggrek dan tanaman hias lainnya serta perkebunan sayur (bekerjasama dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, LSM, PLAN, dan perorangan), tari Saman (seminggu sekali), salon, memasak, mekanika, marawis (seminggu sekali), angklung (seminggu sekali), komputer, film, pesantren dan pengajian, rohani nasrani, dan senam/olahraga setiap pagi. Untuk menonton TV, warga binaan disini diberi jatah 3 kali dalam seminggu supaya tidak ketinggalan berita.

Andikpas disini lebih mudah dikendalikan dengan tindakan pendisplinan yang tegas. Biasanya mereka diberi sanksi berupa jalan jongkok mengitari lapangan sebanyak tiga kali putaran. Siapapun yang bersalah, maka semua anak harus dihukum. Dengan hukuman yang bersifat sama rasa dan sama rata tersebut, diharapkan dapat menimbulkan rasa solidaritas dan memperkecil tindakan pelanggaran. Bentuk pelanggarannya antara lain terlambat mengikuti apel dan tidak melaksanakan piket.

Setiap penghuni penjara tidak diperbolehkan melakukan kontak dengan dunia luar melalui telepon selular. Hubungan dengan dunia luar memang sangat dibatasi. Untuk mencegah kepemilikan telepon selular dalam Lapas, petugas disini sering melakukan penggeledahan. Pada penggeledahan terakhir, menurut wawancara kami dengan salah satu anak tahanan, ditemukan belasan telepon selular yang tersebar di berbagai tempat seperti tempat sampah, pot bunga, dan lain-lain. Jika ketahuan membawa telepon selular, biasanya semua warga binaan terkena hukuman jalan jongkok mengitari lapangan tiga kali putaran.

Seperti halnya di Lapas Anak Pria Tangerang, setiap warga binaan di Lapas Klas II B Anak Wanita Tangerang pun memiliki hak untuk mendapat pembebasan bersyarat, remisi, dan.atau abolisi. Sebagai contoh, salah satu warga binaan di Lapas ini, seorang warga negara Belanda yang dititipkan disini, sempat diperkenalkan oleh Kepala Lapas di tengah presentasinya tentang penanganan warga binaan yang merokok. Warga binaan ini akan segera bebas karena sempat mendapat remisi.

One comment

Silakan berkomentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s