Field Trip Ke Penjara Anak #2

Hua, baru inget punya utang cerita field trip penjara anak ke Aneu! Ya sudahlah, kopipes aja lah ya dari laporan kunjungan saya. Ini bukannya males loh~ tapi kan saya ini artis. Jadi rada sibuk *dilempar sendal jepit*. Postingannya akan terbagi menjadi dua bagian, panjang banget soale. Kalau ada yang belum ngerti, cerita sebelumnya ada disini.Oia, saya akan menggunakan istilah andikpas. Menurut dosen saya, penggunaan andikpas lebih manusiawi daripada istilah narapidana anak.

Secara umum, klasifikasi andikpas di Lapas saat kunjungan kami terdiri dari 29 anak tahanan, 124 anak pidana, 1 anak negara, dan tidak ada anak sipil. Sementara tindak pidana yang menyebabkan masuknya andikpas ke Lapas ini terdiri dari 46 kasus narkotika, 42 kasus pelecehan seksual, dan 32 kasus pencurian. Andikpas yang ditahan disini minimal berumur 13 tahun dan belum ditemukan andikpas yang berumur diatas 18 tahun. Lama pemidanaan andikpas di Lapas ini, minimal empat bulan dan maksimal sepuluh tahun.

Mengenai kesehatan, diketahui bahwa dalam Lapas ini terdapat tiga dokter yang bertugas di ruang perawatan. Pemberian makan di Lapas ini biasanya terdiri atas nasi, lauk pauk, sayur, buah, dan air putih.

Dalam kunjungan lalu, kami menemukan satu ironi yang cukup menarik di Lapas ini, yaitu adanya kebolehan untuk merokok. Merokok menjadi hal yang lumrah di Lapas Anak Pria Tangerang. Tidak diiberlakukannya pelarangan rokok karena petugas Lapas beranggapan pemberlakuan larangan adalah mustahil dan akan menimbulkan potensi pelanggaran yang cukup besar. Keterbatasan SDM pun dijadikan salah satu alasan untuk melegalkan kegiatan merokok ini. Meskipun demikian, tetap dibuat pembatasan mengenai rokok. Andikpas yang merokok hanya boleh merokok pada wilayah tertentu saja.

Untuk ruang tahanan atau sel sendiri, telah dilakukan pemisahan antara tahanan dan napi. Ruang tahanan berlantai semen pres dengan kamar mandi di dalam kamar dan kasur digelar di lantai. Andikpas yang kami wawancarai mengaku bahwa mereka cukup nyaman tinggal disana. Proses pembagian kamar bagi andikpas pun sudah diatur oleh Lapas, yaitu andikpas ditempatkan secara ganjil (tiga orang per kamar). Hal ini bertujuan untuk menghindari terjadinya homoseksual, pertengkaran, dan lain-lain. Dalam Lapas ini juga diwajibkan bagi tiap andikpas memakai seragam yang telah ditentukan.

Walaupun berada di penjara, andikpas tetap mendapatkan haknya untuk mendapatkan pendidikan, baik formal maupun informal. Pendidikan formal yang mereka dapatkan adalah bersekolah sesuai dengan jenjang pendidikannya sebelum masuk ke Lapas, yaitu dari SD hingga SMA. Namun, hanya tingkat SD dan SMP saja yang mendapatkan ijazah seperti sekolah formal. Ijazah ini tidak bercap sekolah Lapas, melainkan sekolah umum yang masih dalam daerah yang sama dengan lokasi Lapas. Untuk tingkat SMA, ijazah yang didapatkan adalah ijazah Paket C. Mereka bersekolah pada hari Senin sampai Kamis, pada pukul 08.00-11.30 WIB. Sayangnya, berdasar wawancara kami, bagi andikpas yang divonis empat bulan, hak atas pendidikan formal ini untuk sementara ditunda. Hak atas pendidikan ini baru diberikan bila masa tahanannya lama.

Beberapa pelatihan diatas, diberikan sertifikat yang dikeluarkan oleh lembaga yang berkompeten. Dengan adanya sertifikat ini, diharapkan andikpas yang telah selesai menjalani masa hukumannya tidak terkurung dalam stigma negatif dan dapat memperoleh pekerjaan dengan mudah atau malah berwirausaha dan membuka lapangan kerja bagi orang lain.

Penerapan disiplin pada andikpas di Lapas ini terbagi dua yaitu:

  1. Untuk pelanggaran ringan, sanksi ditentukan melalui kesepakatan antara petugas Lapas dengan andikpas yang bersangkutan, sehingga bentuk sanksi pun bervariasi. Biasanya berupa hukuman fisik, seperti push up, lari, atau membersihkan tempat-tempat tertentu.
  2. Untuk pelanggaran yang telah dirumuskan dalam peraturan tertulis, maka sanksinya sesuai dengan peraturan yang dilanggar itu. Sebagai contoh, perkelahian antar andikpas dapat dihukum berat. Sanksi terberat adalah memasukkan andikpas yang bersangkutan dalam sel isolasi. Dalam hal pelanggaran belum dirumuskan dalam bentuk tertulis dan tergolong berat, sanksi ditentukan melalui surat edaran Menhukham.

Setiap penghuni Lapas tidak diperbolehkan melakukan kontak dengan dunia luar melalui telepon selular. Jika ketahuan membawa telepon selular, mereka akan diberikan hukuman yang cukup berat. Meski demikian, kenyataan di lapangan menunjukkan mereka tetap dapat berkomunikasi dengan dunia luar melalui internet, semisal melalui jejaring sosial facebook. Mereka diperbolehkan untuk menggunakan internet pada jam-jam tertentu. Sayangnya, pengawasan dalam penggunaan internet ini masih kurang. Salah satu andikpas yang kami wawancarai mengaku bahwa mereka dapat membuka situs porno secara bebas tanpa adanya pengawasan. Penyalahgunaan demikian jika terus dibiarkan tentu dapat menambah permasalahan di kemudian hari.

Untuk kunjungan keluarga sendiri, diperbolehkan dengan izin petugas dan diberikan waktu yang terbatas. Dalam hal komunikasi dengan keluarga via telepon juga perlu izin petugas dan petugas ikut mendengarkan semua pembicaraan. Hal ini bertujuan menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, misalnya transaksi narkoba.

Pembatasan hubungan dengan dunia luar pada dasarnya sangat dibatasi. Pembatasan hubungan dengan dunia luar ini dikurangi dalam kondisi berikut:

  1. Bagi andikpas yang segera bebas. Dalam rangka cuti menjelang bebas, andikpas yang bersangkutan diizinkan keluar di sekitar Lapas, misalnya untuk menjaga lapangan parkir. Keluarnya andikpas ini tentu saja tetap di bawah pengawasan petugas.
  2. Andikpas yang mendapat undangan untuk ikut lomba dapat keluar dengan minta persetujuan Kakanwil Hukum dan HAM. Mengenai keuntungan yang diperoleh dari kemenangan mengikuti lomba dibagi rata untuk Kakanwil Hukum dan HAM, untuk pengembangan Lapas, dan tabungan andikpas peserta lomba yang akan diberikan saat mereka sudah bebas mengingat bahwa dalam Lapas dilarang menyimpan uang tunai.
  3. Adanya kunjungan dari pihak luar ke dalam Lapas. Hal ini cukup sering terjadi. Biasanya kunjungan itu berasal dari mahasiswa, pejabat, dan pihak lain yang berkepentingan yang tentu saja dengan izin dari Kakanwil Hukum dan HAM.

Saat ini, Lapas dinyatakan bebas dari permasalahan homoseksual dan HIV/AIDS. Kasus homoseksual yang terakhir, terjadi pada akhir tahun 2009. Menurunnya praktek homoseksual di Lapas ini berkat adanya perubahan pengelolaan dan kebijakan. Setiap kamar harus dihuni lebih dari dua orang anak dan dilakukan rotasi penghuni kamar setiap beberapa bulan. Sementara kasus HIV/AIDS yang terakhir kali ditangani, terjadi pada akhir tahun 2010. Untuk mengantisipasi HIV/AIDS, Lapas memberlakukan pemeriksaan darah terhadap setiap anak. Namun, pemeriksaan tersebut dilakukan tanpa adanya unsur keterpaksaan. Jika ditemukan anak yang terinfeksi dengan HIV/AIDS, maka anak tersebut akan dipisahkan sementara dan diberikan perawatan yang maksimal.

Salah satu kewajiban Lapas adalah memberikan kesempatan bagi andikpas untuk berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, Lapas Anak Pria Tangerang membuat perjanjian kerjasama dengan Universitas Tarumanegara untuk melakukan assesment psikologi.

Mengingat jumlah andikpas yang cukup banyak, petugas Lapas Anak Pria Tangerang menyiapkan tingkat pengamanan yang baik. Setiap andikpas dipisahkan berdasar masa pidana, umur, dan kelakuan mereka selama dalam Lapas. Dengan adanya pemisahan ini, tingkat pengamanan pun dapat disesuaikan.

3 comments

    1. Ini yang urus izinnya dari kampus. Kebetulan dosen saya punya akses. Mungkin bisa ditanyakan ke Manajemen Penjara Anaknya secara langsung mengenai prosesnya. Saya yakin prosesnya tidak terlalu sulit karena penjara anak ini merupakan salah satu penjara percontohan.

      Like

Silakan berkomentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s