Field Trip Ke Penjara Anak #1

Salah satu tugas kuliah yang paling saya suka di semester lalu adalah observasi field trip ke penjara anak. Ada banyak cerita dan pengalaman dari kunjungan singkat tersebut. Sayangnya saya tidak bisa mengabadikan cerita tersebut dalam bentuk gambar karena saya harus menghargai privacy anak-anak yang di penjara. Sekalipun mereka bersalah, mereka tetaplah manusia yang harus diperlakukan dengan hormat. Oia, selain ga boleh bawa kamera, saya juga tidak diperbolehkan untuk membawa handphone. Kalau bawa handphone, maka handphone tersebut harus dititipkan di meja registrasi.

Penjara anak laki-laki dan anak perempuan dibuat terpisah. Tempat pertama yang saya kunjungi adalah penjara anak laki-laki. Kata teman saya yang sudah pernah kesini, sebaiknya saya ga jalan sendirian dan lebih baik jalan berkelompok karena dikhawatirkan terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan. Eh, tapi ketika saya kesana, saya tidak melihat kejadian yang tidak menyenangkan seperti yang diceritakan teman saya. Hmm, mungkin karena sudah disterilisasi oleh petugasnya. Ya iyalah, segambreng-gambreng yang dateng dan bawa nama universitas pula.

Setelah melewati meja registrasi, kami dibawa berkeliling untuk melihat-lihat fasilitas penjara, kegiatan anak-anak, dan hasil karya anak-anak selama berada di penjara. Mereka mengisi waktu luangnya dengan mengikuti beragam kegiatan, seperti bengkel, musik, komik, pelatihan pijat refleksi, dan memasak. Diharapkan setelah keluar dari penjara, mereka dapat bekerja dan menjadi orang baik. Mereka juga mendapatkan sertifikat dari pelatihan yang mereka ikuti di penjara. Bagus-bagus loh hasil karya mereka dan sangat berpotensi untuk dikembangkan.

Tugas utama yang harus dilakukan adalah wawancara dengan anak-anak yang di penjara. Sayangnya anak-anak yang harus kami wawancara telah disiapkan oleh petugas penjara. Bisa dibilang juga kalau anak-anak yang diwawancara ini sudah berkelakuan baik. Kalau kata teman gw sih, sengaja dikasih anak-anak yang berkelakuan baik, selain karena tidak membahayakan, hal ini juga menjadi cerminan dari pengelolaan penjara anak. Anyway, saya agak sedikit kaget setelah wawancara dengan anak-anak tersebut. Ga semuanya yang melakukan kejahatan itu karena mereka emang jahat.

#1
Dua tahun yang lalu, seorang anak laki-laki berumur sembilan tahun melakukan pembunuhan terhadap ayahnya karena tidak tega melihat ibunya disiksa setiap hari oleh ayahnya. Ia tidak merasa menyesal karena menurutnya tindakan tersebut adalah penghukuman bagi ayahnya. Ia merasa lebih bahagia ketika ayahnya meninggal karena tidak ada lagi orang yang akan menyiksa ibunya. Berdasarkan cerita dari salah satu petugas penjara, setiap minggu, si ibu selalu mengunjungi anaknya. Ibunya merasa sangat bersalah karena melihat anaknya harus masuk penjara demi melindungi ibunya.

#2
Sebagai anak kecil berumur 12 tahun, ia tidak mengerti apa-apa ketika disuruh mendorong motor oleh orang dewasa. Ternyata tindakan yang dilakukannya adalah pencurian motor yang dilakukan oleh orang dewasa dengan memanfaatkan anak kecil sebagai pelakunya. Akhirnya anak laki-laki tersebut dijebloskan ke penjara. Salah satu hal yang menarik adalah setelah tinggal di penjara, ia mulai merasa kerasan. Bahkan ketika masa hukumannya selesai, ia tidak mau pulang ke rumahnya dan tetap ingin tinggal di penjara.

#3
Dengan bermodalkan nekat dan ego yang tinggi sebagai seorang laki-laki, bocah itu pergi merantau dari Papua ke Jakarta. Ia bermimpi bahwa Jakarta bisa mewujudkan harapannya untuk hidup layak. Ternyata mimpinya hanyalah bunga tidur. Di Jakarta, ia terlunta-lunta dan hidup dari belas kasihan salah satu kenalannya. Karena merasa tidak enak dengan kenalannya, ia mencuri handphone kenalannya agar bisa masuk penjara, sehingga ia tidak perlu merepotkan kenalannya lagi. Kemudian bocah tersebut dijebloskan ke penjara. Ia merasa senang begitu hakim menjatuhkan vonis. Hingga saat ini, bocah tersebut masih bersyukur terhadap kejadian yang menimpanya. Di penjara, ia tidak hanya bisa tidur dengan nyenyak dan makan dengan enak, ia juga mendapatkan teman-teman baru dan keahlian-keahlian baru. Jika ia keluar dari penjara nanti, ia ingin membuka sebuah usaha baru dengan menggunakan keahlian yang ia peroleh dari penjara.

Update:

Field Trip Ke Penjara Anak #2

Field Trip Ke Penjara Anak #3

One comment

Silakan berkomentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s