Tuhan Cemburu

menunggu sang kekasih

menunggu sang kekasih

“Aku tidak ingin Tuhan cemburu padaku seperti Ia cemburu padamu” kata si lelaki sambil mendorong kekasihnya untuk segera melangkah menuju tempat Tuhan.

Si perempuan hanya tertawa. Ia menertawakan sejumput kenangan yang terlintas di kepalanya.

“Mungkinkah Ia cemburu, sayang? Barangkali Tuhan cemburu padamu” Sebuah pertanyaan yang muncul setelah engkau selesai menceritakan balada suami yang terpisah dari istri, balada kita.

Dengan penuh semangat engkau menceritakan hari-harimu ketika terpisah dariku. Hari-hari dimana engkau lebih sering memikirkanku dibandingkan menyapa Tuhan.

Tidak bergegasnya dirimu memenuhi panggilan Tuhan karena sibuk menjawab telepon atau pesan singkat. Dzikir senja yang urung kau lafazkan demi mendengarkan cerita mengenai pengalaman yang terjadi dalam keseharianku. Bahkan engkau alpa bersujud di malam hari karena terlalu asyik bersenda gurau di dunia maya.

“Sayang, masihkah Tuhan cemburu padaku?” tanya si perempuan dalam hati.

Silakan berkomentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s