Komitmen

Sore itu, Jakarta diguyur hujan deras. Hujan membuat para pekerja malas beranjak dari kantor, mereka menunggu hujan reda untuk pulang ke rumah. Hingga pukul delapan malam, wilayah Kuningan masih dilanda kemacetan yang cukup parah karena terjadi lonjakan kendaraan akibat hujan reda.

Dua orang pekerja menaiki Kopaja P20 dengan terburu-buru karena bis tersebut sedang melaju pelan dalam kemacetan di lajur kanan. Seorang perempuan cantik masuk terlebih dahulu ke dalam bis. Namun, kecantikannya terlihat menyebalkan karena senyuman masam dan raut muka kemarahan. Di belakang perempuan tersebut, nampak seorang lelaki tampan. Si lelaki memasuki bis dengan tampang kelelahan. Si perempuan dan si lelaki sepertinya saling mengenal satu sama lain.

Setelah diperhatikan secara seksama, sepertinya si perempuan cantik berada di tempat yang salah. Blazer hitam yang licin, sepatu hak tinggi, dan tas tangan bermerk menunjukkan bahwa si perempuan tidak pernah menaiki angkutan umum seperti Kopaja. Perempuan cantik seperti itu seharusnya berada di dalam taksi, minimal Trans Jakarta. Mungkin hal ini yang menjadi penyebab muka masam perempuan cantik tersebut.

Mata si perempuan terlihat sangat awas seperti elang, mencari-cari bangku kosong. Beruntung sekali ia mendapatkan dua buah bangku kosong. Lalu, Si perempuan duduk bersama teman lelakinya. Ia memilih bangku yang berhadapan dengan jendela.

Kemudian, si perempuan mengeluarkan telepon genggamnya, mengirimkan sebuah pesan singkat. Setelah menunggu beberapa lama, terdapat sebuah balasan. Si perempuan menangis tanpa suara. Si lelaki hanya bisa memandangi tanpa mengerti harus berbuat apa.

“Kenapa?” tanya si lelaki sambil memegang tangan si perempuan. Si perempuan tidak menjawab pertanyaan tersebut, ia menghardik tangan si lelaki.

Kemacetan serta kelelahan akibat bekerja, membuat keduanya tertidur di dalam bis. Tetapi kedua orang tersebut kembali terjaga. Suara petikan gitar dari pengamen sepertinya telah mengganggu mereka untuk melanjutkan tidur.

Satu yang ku pinta yakini dirimu
Hati ini milikmu
Semua yang ku lakukan untukmu
Lebih dari sebuah kata cinta untukmu
(Bukan Pujangga – Base Jam)

Mereka berdua saling pandang setelah mendengar lirik tersebut, kemudian tertawa.

Si lelaki mengeluarkan sesuatu dari sakunya, kemudian menggenggam tangan si perempuan dan berkata “Honey, will you marry me?”

Sambil tertawa, si perempuan berkata “Ini seriusan? Ga mau dilamar di Kopaja! Ga romantis banget sih”

“Loh, aku kan ga ngerokok sayang. Jadi ga bisa romantis, rokok makan gratis.”

“Ih, kamu!” si perempuan mencubit si lelaki. Kemudian si perempuan menunjuk si pengamen “Pake lagu atau apalah gitu. Masa gue harus merelakan sisa hidup gue dengan lamaran di Kopaja sih!”

Si lelaki hanya bisa menghela nafas, “Ya udah, kamu mau ga dilamar aku? Kalo kamu ga mau, aku lamar mba-mba yang itu loh” kata si lelaki sambil menunjuk seorang perempuan di bangku seberang.

“Ah, kaya kamu berani aja ngelamar mba-mba itu” si perempuan berkata dengan yakin sambil tersenyum simpul.

“Iya ga berani.” kata si lelaki sambil tertawa kecil “Jadi, will you marry me?”

“Apa ga kedengeran?”

Will you marry me?” si lelaki menaikkan intonasi suaranya.

“Kamu ngomong apa deh, sumpah ga kedengeran”

Dengan intonasi yang lebih tinggi dari sebelumnya, si lelaki mengulangi pertanyaannya “Will you marry me?”

Semua orang menoleh sekilas ke pasangan tersebut. Si perempuan tersenyum kecil, lalu menjawab “Yes, I will

a simple cliche thing you can't define

a simple cliche thing you can't define

Beberapa hari kemudian, si perempuan dan si lelaki bertemu kembali.

“Cincinnya harus ada di dalam es krim! Harus romantis dong~” kata si perempuan pada kekasihnya.

Lelaki tersebut hanya menggelengkan kepala. Namun ia tak kuasa menolak permintaan gadis pujaannya. Kemudian si lelaki mengajak kekasihnya ke sebuah toko makanan cepat saji. Ia meminta pramusaji untuk memasukkan cincin lamarannya pada es krim seharga lima ribu.

Raut muka si perempuan menunjukkan kekecewaan “Yah ga romantis dong”

“Yang penting di dalam es krim” si lelaki terkekeh “So, will you marry me?”

Yes, I will” kata perempuan tersebut sambil tersenyum manis.

Silakan berkomentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s